Kepulut Politik: Manuver Senyap Elit Lokal

Ilustrasi. (Istimewa)

Blora, Tropongnews.com – Politik lokal kembali bergerak senyap. Tidak ada deklarasi besar, tak pula riuh pernyataan di ruang publik. Namun di balik senyum para elit, komunikasi intens dan manuver kepentingan terus berdenyut. Inilah fase politik yang kerap luput dari perhatian masyarakat, tetapi justru paling menentukan arah kekuasaan.

Menjelang momentum politik penting, peta kekuatan mulai mengeras. Tokoh-tokoh yang sebelumnya tampak berjauhan kini saling mendekat. Sebaliknya, relasi yang dulu terlihat mesra perlahan merenggang. Semua berjalan rapi, seolah tanpa konflik, padahal kepentingan sedang dipertaruhkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa politik tidak selalu hadir dalam bentuk debat terbuka atau baliho besar di jalanan. Justru, keputusan strategis sering lahir dari pertemuan tertutup, obrolan santai, hingga lobi-lobi yang tak tercatat kamera. Di titik inilah publik perlu lebih waspada.

Sayangnya, rakyat kerap hanya dijadikan objek legitimasi. Didekati saat dibutuhkan, dilupakan setelah kekuasaan digenggam. Aspirasi diserap sebatas slogan, sementara kebijakan berjalan sesuai kepentingan segelintir elit. Rabu, (17/12/2025).

Kepulut politik seperti ini berbahaya jika dibiarkan. Demokrasi bisa berubah menjadi formalitas belaka—ramai di permukaan, namun hampa makna. Padahal, esensi politik seharusnya menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Masyarakat perlu mengambil peran lebih aktif, bukan sekadar menjadi penonton. Mengkritisi, mengawasi, dan menagih janji politik adalah bagian dari tanggung jawab warga negara. Sebab, kekuasaan tanpa kontrol hanya akan melahirkan kebijakan yang menjauh dari rakyat.

Pada akhirnya, kepulut politik ini akan terurai dengan sendirinya. Siapa yang tulus bekerja untuk rakyat akan terlihat dari jejak kebijakannya. Dan siapa yang hanya piawai bermanuver, cepat atau lambat akan terbaca oleh publik yang semakin cerdas.

 

Catatan: Tulisan ini hanya sebuah gambaran agar kembali merefleksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *