
Tropongnews.com- Di tengah maraknya grup WhatsApp bertema politik dan pemerintahan, muncul fenomena menarik yang mengundang senyum sekaligus keprihatinan. Sejumlah individu mendadak tampil paling vokal, paling kritis, dan paling rajin berkomentar, seolah menjadi pengamat utama jalannya roda kekuasaan.
Namun, di balik derasnya pesan suara dan paragraf panjang yang dikirim hampir tanpa jeda, publik mulai mempertanyakan: sejauh mana gagasan itu berbuah aksi nyata? Jumat, (19/12/2025).
Fenomena yang kerap disebut sebagai “puber politik” ini ditandai dengan kebutuhan besar akan pengakuan dari elit dan pejabat. Kritik dilontarkan nyaring, sindiran ditebar luas, namun sering kali tidak dibarengi data, solusi, atau kontribusi riil di lapangan. Ibarat peribahasa lama, tong kosong memang paling nyaring bunyinya.
Ironisnya, sebagian dari mereka justru berharap dilirik, diajak duduk, atau sekadar diakui eksistensinya oleh para pengambil kebijakan. Ketika ruang dialog dibuka secara nyata, suara-suara lantang itu perlahan meredup, berganti senyap tanpa tindak lanjut.
Para pengamat sosial menilai, kritik adalah vitamin demokrasi, namun akan kehilangan makna jika hanya berhenti sebagai ajang pencitraan digital. Masyarakat kini semakin cerdas membedakan mana kritik yang lahir dari kepedulian, dan mana yang sekadar mencari panggung.
Di era keterbukaan informasi, publik tidak lagi menilai dari seberapa keras seseorang berbicara, melainkan seberapa jauh ia bekerja. Sebab politik bukan soal ramai di grup WhatsApp, melainkan hadir di tengah persoalan dan memberi solusi nyata.
Catatan: Tulisan ini hanya sebagai refleksi


