Dari Relawan ke “Manajer Konflik”: Ketika Dukungan Politik Berbuah Sakit Hati, Demi Berebut Pengakuan dan Jatah

Ilustrasi. (Istimewa)

Tropongnews.com– Usai pesta demokrasi mereda dan kursi kekuasaan mulai terisi, muncul fenomena lanjutan yang tak kalah ramai: relawan pendukung politik yang merasa dilupakan. Mereka yang dulu paling lantang berteriak dukungan, kini justru sibuk mengelola kekecewaan. Minggu, (21/12/2025).

Tak mendapat jatah jabatan, proyek, atau sekadar ruang perhatian, sebagian relawan mulai mencari cara baru agar kembali dilirik. Salah satunya dengan mengemas diri sebagai “manajer konflik”, hadir seolah menjadi penengah di tengah riak persoalan yang muncul.

Dengan narasi menjaga stabilitas dan meredam gejolak, mereka menawarkan solusi—kadang diminta, sering pula tidak. Konflik yang seharusnya diselesaikan secara institusional justru menjadi panggung baru untuk menunjukkan eksistensi.

Di ruang publik, mereka tampil sebagai penjaga harmoni. Di balik layar, pesan-pesan disusun rapi: siap membantu, siap mengamankan, siap mendukung lagi. Harapannya satu—pintu yang sempat tertutup kembali terbuka.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa relawanisme dalam politik kerap bergeser makna. Dari gerakan sukarela menjadi investasi emosional, yang ketika tak menghasilkan imbal balik, berubah menjadi rasa sakit hati kolektif.

Ironisnya, konflik pun kadang dipelihara agar tetap ada alasan untuk tampil. Sebab tanpa gejolak, tak ada peran. Tanpa peran, tak ada perhatian.

Masyarakat kini semakin jeli membaca situasi. Antara upaya tulus meredam konflik dan strategi mencari panggung ulang, perbedaannya kian tipis.

Sebab dalam politik, tidak semua yang datang membawa damai benar-benar ingin konflik selesai—sebagian hanya ingin kembali dihitung.

 

Catatan: tulisan ini hanya sebagai refleksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *