Hari Jadi dan Rasa Duka: Warga Blora Minta Perayaan Tetap Jalan, Tapi dengan Hati yang Peka Bencana

Ilustrasi.

Blora, tropongnews.com — Menjelang perayaan Hari Jadi Kabupaten Blora yang ke-276, suara publik mulai menguat. Di satu sisi, masyarakat bersiap menyambut kirab budaya serta gunungan di berbagai eks kawedanan. Sabtu, (13/12/2025).

Namun di sisi lain, suasana kebatinan warga masih diselimuti keprihatinan atas berbagai bencana yang melanda Tanah Air—mulai banjir di Sumatera dan Aceh hingga musibah lokal berupa tanah longsor di Nglajo, Cepu, serta hilangnya lima santri/siswa di Sungai Lusi yang hingga kini masih dalam pencarian.

Tradisi kirab budaya sejatinya menjadi simbol syukur, identitas, serta pemersatu masyarakat Blora. Namun sebagian warga menilai bahwa kemeriahan pesta rakyat perlu berjalan beriringan dengan empati mendalam terhadap para korban bencana.

Keprihatinan Warga Semakin Menguat

Gelombang duka dan solidaritas terus mengalir dari warga Blora. Musibah di Nglajo dan tragedi hilangnya lima santri di Sungai Lusi membuat masyarakat terpanggil untuk meningkatkan kepedulian dan memperkuat doa bersama.

Banyak warga berharap perayaan Hari Jadi tahun ini diselaraskan dengan suasana keprihatinan nasional. Beberapa usulan yang mengemuka antara lain:

1.Menggelar doa bersama sebelum kirab dimulai.

2.Menyederhanakan prosesi perayaan tanpa mengurangi makna budaya.

3.Membuka donasi kemanusiaan dari peserta dan masyarakat.

4.Penyampaian pesan empati dan kemanusiaan oleh tokoh masyarakat maupun pemerintah daerah.

Tradisi vs Empati Sosial: Warga Minta Titik Tengah

Opini publik yang berkembang menekankan perlunya keseimbangan antara pelestarian budaya dan kewajiban moral membantu sesama. Warga mengingatkan bahwa nilai gotong royong dan welas asih adalah fondasi masyarakat Blora, sehingga perayaan daerah seharusnya mencerminkan semangat itu.

Beberapa warga juga turut menyoroti perlunya pemerintah hadir lebih cepat dalam penanganan bencana, tanpa harus menghilangkan identitas budaya yang telah mengakar kuat.

Dinamika Sosial yang Tercipta

Situasi yang berkembang menimbulkan berbagai respons di masyarakat, antara lain:

A.Empati sosial meningkat, mendorong gerakan donasi dan aksi kemanusiaan.

B.Diskusi mengenai prioritas pemerintah, terutama soal anggaran dan langkah penanganan bencana.

C.Dorongan agar perayaan budaya disertai aksi nyata, seperti posko bantuan atau kampanye solidaritas.

D.Kekhawatiran psikologis, khususnya dari keluarga korban bencana lokal.

Seruan Solidaritas untuk Blora

Warga berharap Hari Jadi Kabupaten Blora bukan hanya menjadi ajang pesta rakyat, tetapi juga momentum refleksi bersama. Budaya tetap dijaga, namun nilai kemanusiaan harus ditempatkan sebagai yang utama.

“Budaya adalah jati diri, tetapi empati adalah jiwa masyarakat Blora. Keduanya harus berjalan beriringan,” tutur salah satu warga dalam diskusi publik,”Cah Gondel).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *