“Nikung Kancane”: Kerja Keras Kalah oleh Bisik-bisik dan Pembunuhan Karakter melalui Manuver Senyap

Ilustrasi. (Istimewa)

Tropongnews.com- Di balik wajah profesional dan senyum kolegial di dunia kerja, tak jarang terselip praktik lama yang terus berulang: menikung dari belakang. Fenomena ini kerap terjadi bukan karena adu kualitas atau kompetensi, melainkan melalui bisik-bisik, manuver senyap, dan permainan relasi yang sulit dilihat mata.

Awalnya dimulai dari obrolan ringan soal pekerjaan, proyek, atau jabatan. Namun perlahan, arah pembicaraan berubah. Prestasi orang lain dikecilkan, kesalahan diperbesar, dan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun runtuh hanya oleh narasi sepihak yang disampaikan diam-diam. Jumat, (19/12/2025).

Ironisnya, mereka yang gemar menikung kerap tampil seolah paling loyal dan peduli. Di depan tampak mendukung, di belakang sibuk menyusun skenario. Dunia kerja pun berubah menjadi arena adu strategi, bukan lagi ruang kolaborasi dan profesionalitas.

Praktik ini tidak hanya merusak iklim kerja, tetapi juga menciptakan ketidakadilan. Mereka yang bekerja sungguh-sungguh sering tersisih, sementara yang piawai bermain kata dan kedekatan justru melenggang ke depan.

Budaya menikung dari belakang muncul karena sistem yang lemah dalam menilai kinerja secara objektif. Selama penghargaan lebih diberikan pada laporan sepihak dan kedekatan personal, praktik semacam ini akan terus subur.

Pada akhirnya, publik dan institusi hanya bisa berharap satu hal: keberanian untuk menilai secara jujur. Karena pekerjaan, jabatan, dan kepercayaan seharusnya diraih lewat kinerja, bukan lewat tikungan tajam yang menjatuhkan orang lain.

 

Catatan: tulisan ini hanya sebagai refleksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *