Udang di Balik Rempeyek Relawan: Dari Perjuangan Moral Membantu Politik hingga Sikut-Sikutan Jabatan dan Proyek

Ilustrasi. (istimewa).

Tropongnews.com– Fenomena relawan dan relawan politik pasca kontestasi kian menjadi sorotan. Alih-alih menjaga semangat pengabdian dan idealisme perjuangan, sebagian relawan justru terjebak dalam pusaran konflik internal, saling sikut, saling klaim jasa, hingga saling menjatuhkan—semua demi satu tujuan: pengakuan, jatah jabatan, dan proyek.

Di balik narasi pengabdian yang kerap disuarakan di ruang publik, aroma kepentingan mulai tercium. Ungkapan “demi rakyat” dan “ikhlas berjuang” perlahan memudar, tergantikan dengan manuver senyap dan strategi rebutan akses kekuasaan.

Tak jarang, grup-grup komunikasi internal berubah menjadi arena adu pengaruh, bahkan saling sindir terbuka, dan yang dulu kompak di lapangan, sekarang saling hitung jasa. Jumat, (19/12/2025).

Situasi ini ibarat rempeyek renyah di luar, tapi penuh udang kepentingan di dalamnya. Tampilan luar tampak rukun dan solid, namun di balik layar terjadi tarik-menarik kepentingan yang cukup tajam.

Ironisnya, konflik ini tidak hanya mencederai semangat relawan sejati, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan publik.

Masyarakat mulai bertanya: apakah relawan hadir untuk membantu perubahan, atau sekadar antre di barisan paling depan demi mendapatkan bagian kue kekuasaan?

Jika kondisi ini terus dibiarkan, relawan politik dikhawatirkan hanya akan menjadi simbol pragmatisme baru—keras bersuara saat perjuangan, namun lembek saat ditanya soal keikhlasan.

Dan, pada akhirnya, sejarah akan mencatat siapa yang benar-benar berjuang, dan siapa yang sekadar menunggu giliran menikmati hasil.

Catatan: tulisan ini hanya sebagai refleksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *